Langsung ke konten utama

Postingan

Kroma

KROMA by Dwipatra Ilustrasi: Dwipatra Sebuah ketukan di kaleng tempatku tinggal memaksaku untuk bangun dari kubangan Sari Warna—oh manusia sering menyebutnya cat. Tampaknya aku juga akan memakai istilah itu untuk alasan kepraktisan—yang menyenangkan ini. Sebenarnya aku malas untuk keluar dari kaleng ini, tapi tak ada pilihan lain. Jika aku tak segera keluar, ketukan demi ketukan akan terus terdengar, bahkan intensitasnya akan semakin sering. Dan itu sangat mengganggu. Akhirnya, sedikit kuangkat tutup kaleng. Mengintip, satu-satunya manusia yang bisa melihat bangsaku tengah menatap ke arahku: Pictor, seorang pelukis amatiran yang kadang menyebalkan. Sampai sekarang aku belum tahu ilmu apa yang dimiliki pria berambut berantakan itu sehingga ia memiliki keistimewaan dapat melihat kami. Kami adalah bangsa Kroma. Sebuah makhluk yang sering tinggal di sanggar-sanggar lukis manusia. Kami adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan warna dari cat, sehingga...

Ular-Tangga

Ular-Tangga by Dwipatrra Sumber ilustrasi  klik di sini Aku turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju tempat tujuanku, kasino termegah yang berdiri di daerah ini. Lampu-lampunya tersusun rapi membentuk tulisan besar-besar: KING'S CASINO. Aku berjalan ke pintu masuknya, membiarkan petugas keamanan yang berpakaian necis memeriksaku, memastikan aku tak membawa senjata atau pun benda berbahaya lainnya, sekaligus memastikan bahwa aku adalah anggota resmi kasino ini. Setelah puas, para petugas mempersilakanku masuk dengan senyum sopan yang membuat wajah mereka menyerupai topeng (atau saking seringnya mereka tersenyum seperti itu sampai wajahnya tercetak demikian?). Hingar bingar elegan menyambut kedatanganku. Tapi bukan kebisingan itu yang aku cari di sini. Kedatanganku kemari bukan untuk bergabung dengan para penjudi murahan itu, aku kemari untuk perjudian yang lebih spektakuler.

TABUR OMBAK

Tabur Ombak oleh Mahfudz Dwipatra Aku tak pernah melewatkan satu senja pun tanpa melihat matahari terbenam. Aku selalu terpesona saat lingkaran kemerahan itu amblas di horison laut yang tenang. Membiaskan warna senja yang mendamaikan ke langit. Dan seperti biasa, di sinilah aku menunggu saat keindahan itu tiba. Duduk di ujung dermaga kayu kecil yang letaknya tak jauh dari rumah para penduduk desa pesisir kecil ini. Dermaga ini tidak terlalu tinggi, sehingga dengan mudah kakiku yang tergantung mampu mempermainkan air laut. Tiba-tiba, dibalik suara kecipak air yang aku ciptakan, samar-samar indera pendengaranku menangkap suara langkah kaki jauh di belakang. Semakin lama langkah kaki itu semakin terdengar jelas, dengan tempo yang terdengar familier. Aku tak perlu menengok ke belakang untuk mengetahui siapa yang datang, karena ritual menunggu matahari terbenam bukanlah ritualku seorang diri.  “Kukira kau tidak akan datang,” kataku setelah orang itu duduk di sampingku. Ma...

LITTLE LIAM

Little Liam By: Mahfud Dwipatra Ternyata kehilangan ibu dan saudara bukanlah akhir dari hari burukku. Masih ada bencana lain. Mulai hari ini aku harus tinggal serumah dengan penghuni baru, kucing baru yang sepertinya pemarah. Pagi tadi, tak lama setelah mahluk bernama manusia membawa pergi ibu dan kakakku, kucing baru itu dilempar ke rumah ini oleh manusia. Berkali-kali ia meneriakkan kata-kata kasar kepada manusia yang membawanya, sambil terus menggedor-gedor pintu. Baru beberapa saat yang lalu ia berhenti bertingkah gila. Sekarang ia memilih diam di dekat batu hitam legam di sudut rumah. Sembunyi-sembunyi, aku mengamati kucing itu. Tampilan fisiknya persis seperti aku, yang menandakan bahwa ia satu spesies denganku. Kulit berbulu putih kebiruan dengan belang-belang hitam yang hanya ada di kaki, telinga tinggi dan runcing, dua ekor berujung hitam bergerak gelisah menyapu lantai. Dan matanya, aku tak sempat melihat karena takut. Seharusnya persis denganku yang berwarna ...

SELENDANG NAWANGSIH

Selendang Nawangsih  O leh: Mahfudz Dwipatra Harus aku akui bahwa di sini aku mendapat perlakuan yang cukup baik. Kamar indah dengan makanan lezat yang tak mungkin digoreng dengan minyak jelantah seperti yang kadang aku makan di bumi menjadi jamuanku sehari-hari. Tapi walau bagaimana pun kahyangan bukan tempatku, bumilah tempatku. Aku tak menikmati semua itu. Aku rindu ayahku. Aku rindu hembusan angin yang menerpaku saat bersantai di saung. Aku rindu suara kelebat daun pohon pisang yang terterpa angin. Aku rindu suara cerpelai yang sedang bercinta di bawah saung. Aku rindu semuanya. Sebuah ketukan tiba-tiba terdengar di pintu, membuyarkan lamunanku. Membuyarkan pikiranku yang sedang sibuk menebak nama rasi dari gugusan bintang di langit. Sebelum kupersilakan masuk, pintu sudah terkuak. Masuklah seorang dewi cantik bergaun biru laut. Dia ibuku, Nawang Wulan. Walau ia ibuku, tapi wajahnya hanya tampak sedikit lebih tua dariku yang sudah berumur 18 tahun. Kurasa i...

Gramedia Pustaka Utama

Suka baca Novel? Tentu tak asing lagi dengan penerbit yang satu ini. Penerbit yang terkenal menerbitkan buku-buku berkualitas. Banyak sekali penulis yang ingin bukunya bisa diterbitkan oleh GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA . Anda ingin menjadi salah satunya? langsung saja kenali kriterianya dibawah ini... Caranya Menerbitkan Naskah di Gramedia Pustaka Utama Kami selalu menerima naskah dari penulis untuk kami terbitkan, bila naskah tersebut kami nilai memenuhi standar penerbitan kami. Namun, maaf sekali, kami tidak bisa menerima naskah yang dikirimkan melalui e-mail, karena akan menyulitkan tim editor dalam melakukan penilaian naskah. Apabila Anda ingin menerbitkan naskah Anda, silakan kirimkan naskah tersebut ke: PT Gramedia Pustaka Utama Gedung Kompas Gramedia Lantai 5 Jl. Palmerah Barat 29-37 Jakarta 10270 Caranya….

Ufuk Publishing House

Punya novel Fiksi Fantasi, tapi bingung mau dikirim ke mana?  Atau pengen novel fantasimu berjajar dengan novel “Hush Hush”?  Ha ha jangan bingung. UFUK PUBLISHING HOUSE adalah yang kamu cari. Ini dia kata mereka… Salam pecinta buku, Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan Anda menyerahkan naskah kepada kami.  Syarat pengiriman naskah ke Ufuk Publishing House : 1.       Ditulis dalam font times new roman, ukuran 12 spasi rangkap 2.       Menuliskan sinopsis karya yang berisi kelebihan karya ini serta diferensiasi dengan karya lain yang sudah berada di pasaran. 3.       Naskah dapat Anda kirimkan via pos ke : Redaksi Ufuk Publishing House. Jl. Kebagusan III, Komplek Nuansa Kebagusan 99, Kebagusan, Ps.Minggu Jakarta Selatan Telp.021-78847037 Fax.021-78847012 4.       atau via email ke: redaksi@ufukpress.com ...